Solusi Kesehatan Anda

Kesehatan Anda Investasi Paling Berharga!

Masalah Kesehatan: Stroke Pendarahan Otak

Rabu, 24 May 2006

Bahaya Stroke Perdarahan Otak

Dr. Handrawan Nadesul, Dokter umum

Stroke perdarahan otak lebih fatal akibatnya dibanding stroke bukan perdarahan otak. Lebih sering menyerang pria daripada wanita. Mungkin langsung sudah tidak dapat tertolong kendati tindakan medis segera dikerjakan. Adakah penduga kuat, siapa dan kapan stroke perdarahan menimpa seseorang? Kita bicarakan di sini.

Pak Nus, mendadak terjatuh lalu pingsan sewaktu berpidato di mimbar. Baru ketahuan kalau tungkai kanannya lumpuh setelah ia mulai siuman. Ia tak kuasa mengangkat tungkai kanannya. Kesadarannya tampak belum pulih benar, dan seperti mau tidur terus. Dokter yang memeriksa menduga Pak Nus, mengalami stroke perdarahan.

Benar, begitu gambaran hasil CT-Scan yang langsung dilakukan setiba Pak Nus, di rumah sakit. Ada bekuan darah sebesar bola bekel bersarang di bagian tengah otaknya, menekan belahan otak kiri. Hasil pengambilan cairan otak yang menyusul dilakukan, sudah penuh darah.

Setelah itu kesadaran Pak Nus, terus memburuk. Tak ada respon yang timbul sewaktu diajak bicara dan dicubit. Dia nyaris koma.

Untuk kasus seperti itu tak banyak bisa dikerjakan lagi. Pak Nus mengalami perdarahan di daerah thalamus otaknya. Ini daerah vital di bagian tengah otak. CT-Scan yang kedua kali menunjukkan bekuan darah yang sudah lebih membesar, tanda proses perdarahan masih terus berlangsung. Belum sehari, seperti dugaan dokter yang memeriksanya, Pak Nus, memang tak mungkin bisa tertolong lagi.

Kapan terjadi
Kita mengenal ada dua jenis stroke. Stroke sebab sumbatan pembuluh darah otak atau stroke iskemik, dan stroke yang terjadi sebab pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Dua-duanya merusak sel dan bangunan di dalam otak.

Tergantung pada cabang pembuluh darah otak pemasok makanan ke bagian otak mana yang mengalami penyumbatan, kita mengenal gejala dan tanda stroke lebih sepuluh ragamnya. Stroke bukan hanya tampil dengan gejala kelumpuhan belaka seperti dikira banyak orang.

Analog dengan peta bumi demikian kondisi pemetaan fungsi otak kita. Wilayah otak provinsi tentu lebih vital dibanding wilayah otak yang setingkat kabupaten atua kecamatan. Tak lebih vital tentu wilayah desa.

Penyumbatan pembuluh darah otak yang terjadi di wilayah provinsi akan lebih nyata dan berat gejala, serta kecacatan yang disisakannya. Gangguan aliran darah yang terjadi di wilayah kecamatan atau desa, mungkin belum memperlihatkan gejala stroke apa pun (silent stroke). Stroke begini baru ketahuan kalau dilakukan CT-Scan.

Ada kelemahan dan kerentanan tersendiri untuk pembuluh-pembuluh darah otak tertentu dan percabangannya untuk beresiko tersumbat, atau disumbat baik oleh bekuan darah kiriman (dari jantung atau pembuluh darah besar di batang leher), maupun oleh penyempitan pipa pembuluh darah otak sendiri akibat menebalnya “karat” lemak (ateroklerosis). Di wilayah pembuluh darah yang seperti itu sumbatan pembuluh sering terjadi. Gejala stroke iskemik yang muncul ditentukan oleh bagian mana fungsi otak yang terganggu sesuai dengan wilayah kerusakannya.

Begitu juga kerentanan pembuluh-pembuluh darah otak bagian tertentu di dalam otak yang mudah menjadi rapuh, dan kemudian rentan pecah. Pada bagian otak yang dipasok pembuluh darah itulah yang sering mengalami perdarahan.

Kita mengenal ada empat wilayah otak yang pembuluh darahnya sering pecah, sehingga menimbulkan stroke perdarahan. Keempat wilayah itu adalah pembuluh darah di bagian otak putamen, thalamik, pontin dan otak kecil.

Karakteristik pembuluh darah yang rentan pecah itu khas. Biasanya pada bagian pembuluh darah yang menyabang (bifurcatio) yang kerap terjadi perdarahan. Mungkin karena di situ arus darah itu yang berpotensi merusak dinding bagian dalam pembuluh darahnya. Keadaan demikian lazim terjadi pada orang yang pembuluh darahnya sudah dibombardir oleh tekanan darah yang meninggi untuk waktu yang lama.

Pada pengidap darah tinggi yang menahun, pipa pembuluh darah seluruh tubuhnya sudah menjadi abnormal. Termasuk pembuluh darah di otaknya. Lapisan yang membentuk pipa pembuluh darahnya sudah berubah akibat memikul beban tekanan darah yang terus tinggi selama bertahun-tahun. Selain lapisannya rapuh, otot dinding pembuluhnya kaku, mungkin terbentuk pula lapisan abnormal “karat” lemak bila kadar lemak dalam darah juga dibiarkan tinggi (hiperlipidemia).

Tekanan darah yang terus meninggi, merapuhnya dinding pipa pembuluh darah otak, awal dari bencana pecahnya pembuluh darah otak. Kondisi ini diperburuk oleh hadirnya penyakit kencing manis, yang selain memperburuk kadar lemak darah, diabetes ikut menambah rapuh dinding pembuluh darah juga.

Terus melonjak
Stroke perdarahan otak bisa terjadi sewaktu-waktu, dan kapan saja. Paling sering bila dalam kondisi tegang, stres, atau emosi meluap-luap. Kita sering menyaksikan serangan stroke jenis yang ini terjadi saat orang berada di mimbar, selagi rapat, dan okasi-okasi yang menegangkan lainnya. Pada kondisi tersebut, tekanan darah umumnya melonjak secara mendadak.

Tekanan darah yang melonjak dadakan akan menimbulkan beban tambahan pada dinding pembuluh darah otak. Memikul bebas deras dan kerasnya aliran darah di dalam pembuluh darah otak, tidak selalu dapat ditahan oleh pembuluh darah yang sejak awal sudah rentan dan rapuh. Ibarat ban dalam mobil yang sudah aus dan tipis, sekadar sontekan terinjak batu saja pun ban akan pecah juga.

Seperti itu yang terjadi pada stroke perdarahan otak. Dinding pembuluh darah otak, biasanya pada bagian otak tertentu, mendadak retak, koyak, dan akhirnya pecah. Darah merembas memasuki jaringan otak di sekitarnya, lalu membeku membentuk bekuan yang membola.

Semakin besar pipa pembuluh darah otak yang pecah, dan semakin besar koyakan dinding pembuluh darahnya, semakin besar ukuran bekuan darah yang terbentuk. Bekuan di bawah volume 30 cc tergolong kecil, dan lebih besar dari 60 cc tergolong besar.

Selain dari besarnya ukuran bekuan darah yang terbentuk. pragnosis pasien stroke perdarahan juga ditentukan oleh lokasi pecahnya pembuluh darah. Bila terjadi di wilayah otak yang lebih vital, tentu lebih buruk pragnosisnya. Namun, perdarahan otak yang cenderung terjadi ada empat wilayah seperti sudah disebut di atas, semuanya bersifat fatal.

Itu maka, hampir sebagian besar kasus perdarahan otak, dalam hitungan waktu paling lama dua kali 24 jam, biasanya sudah tak mungkin bisa tertolong. Hanya perdarahan di wilayah otak kecil (cerebellum) yang masih ada kemungkinan untuk tertolong, sekalipun dengan menyisakan sejumlah kecacatan.

Besar kecilnya bekuan darah yang terbentuk, ditentukan pula oleh lekas tidaknya upaya menurunkan tekanan darah dilakukan. Selama tekanan darah terus tinggi, darah yang semburat memasuki jaringan otak semakin banyak. Pertolongan pertama harus mengendurkan tekanan darah, selain memberi obat penghenti perdarahan.

Pilihan membedah kepala harus diputuskan bila bekukan darah tergolong besar dan kondisi pasien masih ada harapan untuk hidup. Untuk itu perlu dinilai status kesadarannya. Bila kesadaran pasien secara progresif terus memburuk menuju koma, keputusan pembedahan untuk mengangkat bekuan darah perlu dipertimbangkan ulang karena mungkin akan sia-sia saja.

Perdarahan otak mungkin berlangsung terus, dari menit ke jam. Ini ditunjukkan oleh kesaran pasien yang terus memburuk, dan rentetan hasil pemeriksaan CT-Scan yang dilakukan berulang akan memperlihatkan rangkaian bekuan darah semakin jam terus bertambah besar seperti bola salju.

Perdarahan otak baru terhenti dengan sendirinya bila sudah terbentuk keseimbangan antara tekanan dalam bekuan darah dan tekanan jaringan otak di sekitarnya.

Gejala utamanya lumpuh dan koma
Gejala stroke perdarahan otak dapat dikenali dengan melihat dua gejala utamanya, yakni kelumpuhan yang disertai dengan gejala penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran yang paling dalam muncul sebagai bentuk koma. Pada status ini pasien tidak memberikan respon untuk stimulasi apa pun pada tubuhnya.

Stroke bukan perdarahan atau stroke iskemik umumnya tidak disertai dengan gangguan penurunan kesadaran. Apa pun gejala strokenya, pasien umumnya tetap sadar. Serangan stroke bisa terhadi selagi bergiat, bisa juga sewaktu tidur atau beristirahat.

Sumbatan pada stroke iskemik bisa pada pembuluh darahnya sendiri, bisa juga berasal darai kiriman. Sumbatan kiriman atau emboli terjadi pada saat sedang tidak melakukan aktivitas fisik.

Sumbatan kiriman biasanya berasal dari jantung. Mereka yang mengidap gangguan jantung perlu waspada karena sama beresiko terserang stroke iskemik juga jika ada bekuan darah atau lemak yang terlepas dari jantung atau pembuluh darahnya.

Gejala kelumpuhan tidak harus selalu terjadi. Tergantung di daerah otak bagian mana kerusakan jaringan otak terjadi, gejala stroke mungkin tidak selalu kelumpuhan motorik. Bila perdarahan menimpa otak kecil, gejalanya mungkin lebih pada gangguan berbicara, gerakan bolamata, vertigo tujuh keliling, nyeri kepala hebat, dan muntah-muntah. Mungkin juga tidak sampai pingsan, dan sebagian besar umumnya masih bisa diselamatkan

Sumber : cybermed

Mei 27, 2008 Ditulis oleh solusikesehatananda | Masalah Kesehatan | , , , , , , , , , | No Comments Yet

Masalah Kesehatan: Stroke Pembunuh Nomor Tiga

Pembunuh Nomor Tiga itu Bernama Stroke

JAKARTA – LIFE begin at forty, hidup dimulai di usia 40. Sebab di usia kepala empat inilah seseorang tengah berada di puncak karir. Di usia ini pula seseorang tengah menikmati apa yang menjadi perjuangannya sejak usia 20 hingga 30-an. Sayangnya, di usia ini pula, penyakit stroke mencari mangsa.

“Banyak dijumpai kasus stroke menyerang orang usia 40-an, di mana seseorang sedang dalam masa produktif. Alangkah tragis bila di usia muda ini harus hidup di atas kursi roda atau berbaring di tempat tidur hanya karena penanganan stroke yang terlambat,” ujar Patricia M. Widjaya, Sp, kepala Bagian Radiologi di Rumah Sakit Husada, Jakarta.

Stroke adalah serangan mendadak pada otak akibat pembuluh otak tersumbat atau pecah. Biasanya kondisi ini akan diikuti dengan gejala seperti nyeri kepala hebat, penurunan kesadaran dan kejang mendadak. Juga terjadi gangguan daya ingat, keseimbangan dan gangguan orientasi tempat, waktu dan orang.

Jenis stroke sendiri ada dua macam, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada stroke iskemik terjadi proses arteriosklerosis atau darah terlalu kental yang membuat pembuluh darah otak tersumbat. Sumbatan ini terjadi akibat lepasnya bekuan yang berasal dari lokasi lain. Sedangkan stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah akibat dinding pembuluh rapuh atau anomali-anomali bawaan pada usia muda.

Menurut Patricia, pasien stroke iskemik kerap terlambat ditangani akibat masyarakat kurang memahami bahaya stroke. “Umumnya, jika seorang anggota keluarga terserang stroke iskemik, tidak langsung dibawa ke rumah sakit. Mereka hanya membaringkan penderita saja. Kalau dilihat kondisi membaik maka dianggap kesehatannya sudah pulih,” ungkap Patricia.

Padahal stroke iskemik bisa dipulihkan kalau ditangani dengan cepat, tidak lebih dari tiga jam setelah serangan terjadi. Penanganan awal yang paling menentukan adalah dengan cara deteksi.

Teknik Deteksi
Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging untuk mengevaluasi kasus stroke atau Cerebrovascular Disease (CVD), yaitu CT scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus stroke hiperakut.

Patricia berpendapat jika pasien stroke iskemik ditangani dengan cepat dan tepat menggunakan paket pemeriksaan CT scan dan MRI maka stroke yang berkelanjutan bisa pulih kembali.

Lebih jauh Patricia menjelaskan langkah pemeriksaan CT scan terhadap otak polos, potongan aksial dari basis crani sampai vertex. Bila ada tanda-tanda stroke hemoragik maka pemeriksaan selesai sampai di tahap ini. Namun kalau CT scan normal atau tidak ada tanda-tanda akut infark maka pemeriksaan dilanjutkan dengan MRI.

RS. Husada menyediakan sarana MRI dengan tesla tinggi, yaitu 1,5 tesla. MRI adalah suatu alat diagnostik gambar berteknologi canggih yang menggunakan medan magnet, frekuensi radio tertentu dan seperangkat komputer untuk menghasilkan gambar irisan penampang tubuh manusia.

Dengan ukuran tesla yang lebih tinggi maka akan dihasilkan gambar lebih tajam. Kemampuan membuat irisan penampang sangat tipis, yaitu 1-2 milimeter, sehingga detil struktur jaringan tulang rawan terlihat lebih jelas.

Selain mendeteksi stroke, MRI juga bisa mendeteksi kelainan jaringan di leher, tumor, infeksis atau abses, proses degenerasi, trauma, kelainan bawaan dan sumbatan pembuluh darah. Pemeriksaan stroke dengan MRI ini, menurut Patricia, hanya tepat bagi stroke akut yang kurang dari tiga jam, adanya defisit neurologi yang nyata dan terjadi trombosit.

Terapi
Setelah menjalani deteksi teknis, pasien stroke harus menjalani perawatan umum. Menurut Prof. DR. Dr. SM.Lumbantobing, SpS (K), ahli penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), perawatan umum sangat diperlukan apabila kesadaran pasien menurun. Biasanya perawatan ini dilakukan setelah diadakan pemeriksaan penunjang rutin, mencakup hemoglabin, hematokrit, eritrosit, lekosi, masa pendarahan serta pembekuan, dan seterusnya.

Pada tahap perawatan umum harus diperhatikan jalan nafas pasien. Jika jalan nafas tersumbat maka lendir harus disedot untuk mencegah kekurangan oksigen. Masuknya cairan, kalori dan elektrolit juga harus dipantau dengan baik. Di samping itu harus dicegah terjadinya peningkatan suhu dengan cara pemberian obat anti piretik atau kompres.
“Peranan terapi anti-hipertensi pada fase akut stroke masih kontraversial di antara ahli medis. Ada dugaan bahwa menurunkan tekanan sistemik dapat memperburuk aliran darah selebral yang mengakibatkan kerusakan iskemik,” jelas Lumbantobing. Mengobati tekanan darah umumnya dilakukan bila tekanan diastole melebihi 140 mm Hg atau tekanan sistole melebihi 220 mm Hg. Ada pula pakar yang mengambil standar batas lain, yaitu tekanan astole lebih besar dari 220 mm Hg.

Umumnya tekanan darah meningkat pada fase akut stroke. Peningkatan tekanan darah ini dapat disebabkan oleh stres, rasa nyeri, kandung kencing yang penuh dan tekanan intrakranial yang meninggi. Bila iskemia didapati cukup berat maka sebagian sel saraf otak mati atau sekarat. Saraf yang mati ini tidak dapat ditolong. Yang bisa dilakukan tim medis adalah berusaha agar saraf yang sekarat jangan sampai mati. Saat inilah dibutuhkan suatu terapi khusus bagi pasien.

Pembunuh Nomor Tiga
Lumbantobing berpendapat bahwa banyak masyarakat awam yang tidak menyadari bahwa stroke sangat berbahaya. Informasi ini sering tidak didapat oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Yang perlu diketahui adalah sesungguhnya stroke merupakan keadaan gawat darurat. Stroke membutuhkan penanganan segera, sama halnya dengan jantung. Jika pada jantung disebut serangan jantung, maka stroke bisa disebut sebagai serangan otak.
Jumlah penderita stroke di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Jangan disepelekan, sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5 persen penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia.

Di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien rumah sakit, sedikitnya dua orang merupakan penderita stroke. Jika tidak ditangani dengan segera maka penderita stroke bisa berakhir dengan kematian atau kecacatan, yakni lumpuh dimensial atau pikun dan gangguan lain seperti sulit bicara dan melakukan kegiatan lainnya.

Untuk mencegah “the silent killer” ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melakukan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan. Mereka yang berpotensi tinggi terkena stroke adalah penderita hipertensi, kencing manis, pecandu rokok dan alkohol, serta penderita stres berat.(mer)

sumber www.sinarharapan.co.id

Mei 27, 2008 Ditulis oleh solusikesehatananda | Masalah Kesehatan | , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet